Belajar Tidak Identik dengan Buku

Jiwa Yang Tertekan

Pagi itu seorang anak laki-laki kecil telah menginjak usia 3 tahun, tepatnya 3 tahun 1 hari, ia terlihat sangat ceria. Ia baru saja merayakan ulang tahunnya kemarin sore dengan mengundang 32 orang teman komplek perumahannya. Di teras depan rumah ia terlihat sedang asik bermain balon sisa ultah kemarin sambil sarapan pagi. Ibunya yang berada di samping si anak merasa risih dengan kelakuanya yang berkali-kali memasukkan balon tiup kemulutnya disaat ia sedang makan.
Kemudian sang ibu mengingatkan pada si anak agar jangan bermain-main dengan balon tiupnya itu. Akan tetapi si anak yang sedang asiknya tidak memperdulikan peringatan si ibu samapi akhirnya balon yang ia tiup meletus tepat dimukanya.


Hua….huaaa….dengan suara lantang ia menagis. Lalu sang ibu memarahinya, dengan berbagai kata-kata yang keluar begitu saja dari mulaut sang ibu tanpa ada pemikiran terlebih dahulu.

Setelah terdiam dari tangisnya itu sang paman yang penuh perhatian meminta si anak tersebut untuk meniup balonya lagi, namun si anak tidak mau meskipun sang paman mengiming-imingi dengan uang seribu perak. Sang paman terheran, apakah kiranya yang membuat sianak tidak mau meniup balonnya lagi, padahal balonnya memiliki bentuk yang lucu, warna yang indah dan memiliki gambar yang indah pula?

Apakah si anak takut dengan amarah ibunya tadi ataukah karena trauma dengan kejadian balon yang meledak di mukanya tadi. Jawabnya tidak ada yang tau pasti, bisa jadi karena takut dengan sang ibu atau bisa juga karena trauma dengan kejadian yang menimpanya barusan.

Hikmah apa yang dapat kiata ambil ? Secara sederhana paling tidak ada 2 hikmah yang dapat kita petik dari kejadian itu. Pertama, balon yang meletus diakibatkan balon tersebut terlalu banyak menampung udara. Udara tadi terus menerus memberikan tekanan. Dapat kita simpulkan, jangan pernah kita memberi tekanan kepada si anak karena ia akan meledak sewaktu-waktu. Akumulasi kekecewaan si anak adalah bom waktu yang siap meledak sewaktu-waktu.

Kedua, biarkan anak untuk mecari tahu melalui pengalamannya sendiri, karena ia akan menadapatkan pelajaran yang baru atas kejadiannya yang ia alami. Sebagai orang tua bimbinglah anak untuk mencari ilmunya bukan memberi peringatan saja. Jika anak terlalu ditekan dan dikendalikan akan berakibat fatal. Anak akan tumbuh berkembang menjadi seorang anak yang penakut untuk melangkah di hari depanya kelak, sehingga dia tidak mampu untuk memutuskan perkaranya sendiri dari setiap masalah yang Ia hadapi, meskipun masalah yang Ia hadapi adalah masalah yang ringan-ringan saja

[jiwa yang tertekan (10)]

Pendidikan, psikologi, tertekan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Happy Paperless located at Banjarnegara , Jawa Tengah, Indonesia . Reviewed by 28 customers rated: 1 / 5



Rumus-Excel.Com
Kunjungi rumus-excel.com untuk belajar excel. Anda juga dapat menyumbangkan artikelnya ke kami untuk kita publish