Belajar Tidak Identik dengan Buku

Kado Terindah Buat HARDIKNAS

Tanggal 2 Mei adalah tanggal yang bersejarah bagi dunia pendidikan di Indonesia. Tanggal tersebut adalah tanggal kelahiran Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau biasa dikenal dengan Ki Hadjar Dewantara, tepatnya tanggal 2 Mei 1889. Dia adalah tokoh pendidikan indonesia yang kemudaian dijadikan sebagai Pahlawan Nasional ke-2 oleh Presiden Soekarno dengan SK No. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda (wikipedia). Berbicara soal pendidkan saat ini apakah sudah sesuai dengan cita-citanya dahulu kala? Rupanay Pendidikan di Indonesia masih kalah seru dengan kepentingan 5 tahunan orang-orang yang sedang asyik rapat membahas rakyat. Beberapa dari mereka telah melanggar kesepakkatan para pahlawan dan pendiri negara ini yang tertuang dalam UUD 1945. (yah namanya juga sedang berkuasa, toh nanti jadi rakyat biasa lagi)

Disejumlah  wilayah negeri ini masih banyak sekolah yang perlu diperhatikan, terutama masalah bangunan. Seharusnya bukan gedung Wakil Rakyat yang diutamakan tapi gedung yang dipakai rakyat untuk bersekolah yang seharusnya mereka pikirkan. Banyak siswa yang terpaksa belajar dibawah ancaman maut karena atap sekolahnya yang hampir ambruk, tembok yang hampir roboh, jembatan penyebrangan untuk menuju kesekolah yang hanya berupa kawat seling beberapa biji saja dan lain sebagainya. Seharusnya Bapak/ibu semua yang sedang mewakili kami dan mewakili anak didik kami mengutamakan sekolah dibanding gedung yang cuma akan ditempati selama 5 tahun (ya kalau tidak tersandung kasus). Pepatah mengatakan Jangan seperti kacang yang lupa kulitnya. Bapak/Ibu semua tidak akan pernah menduduki kursi megah dan ruangan sejuk di gedung itu, kalau seandainya tidak punya ijazah sekolah. Dari sekolah Bapak/ibu belajar untuk menjadi orang pintar dibidangnya masing-masing, dan tidak ada seorang guru pun yang mengajari kepada anak didiknya bagaimana menjadi orang yang pintar membodohi orang lain.

Semoga kedpannya nasib anak didikku semakin membaik. Soalnya….. pada 2 Mei 2010 sudah dicanangkan Pendidikaan berkarakter. Eh…. siapa tahu tidak sampai 10 tahun yang akan datang anak didikku sudah ada yang menjadi pejabat penting. Dan semoga saja tidak asal mengambil kebijakan untuk negeri ini terutama masalah dalam pendidikan.

Saya yakin anak didikku saat ini adalah calon pemimpin dengan karakter kuat dimasanya nanti. Bagaimana tidak?. Dihari akhir sekolahnya mereka sudah berjuang keras dibawah sejumlah aturan menegnai standar kelulusan, meskipun saya tahu bahwa masih banyak kekurangan dari alat penilaian kelulusannya. Kalau kita perhatikan, soal yang baru saja digunakan untuk menguji kemampuan akademik anak didik kita, soal yang digunakan memang terdiri dari 5 paket soal, namun sebenarnya pertnyaan /soal adalah sama. Hanya di pindahkan urutan nomernya saja. Saya jadi tidak habis pikir, rasanya baru kemarin saya menulis di blog ini mengenai pengaruh soal no 1 terhadap psikologis anak. disitu saya menuliskan bahwa penyebaran soal yang salah dapat berakibat perolehan nilai siswa yang rendah. Ketika siswa membaca pertanyaan untuk no 1 sudah mendapatkan pertanyaan yang cukup sulit maka secara psikologis kepercayaan diri anak dapat menurun.

Kenapa pemerintah mengambil keputusan yang demikian? Apakah pemerintah mengambil jalan tengah yang aman-aman saja?. Soal memang dibuat 5 paket dengan tujuan untuk memperkecil kecurangan selama UN tetapi pemerintah juga tidak mau mangambil resiko menerima serangan balik dari masyarakat kalau seandainya perolehan hasil UN  banyak yang tidak memuaskan alias banyak yang gagal? nah… mungkin dengan alasan ini pemerintah tidak memvariasi soalnya. Kalau pemerintah benar-benar ingin memperkecil kecurangan berupa kerja sama antar peserta UN  seharusnya soal yang dibuat menggunakan kisi-kisi yang sama untuk tiap nomernya namun soalnya berbeda, sebagai contoh untuk soal matematika, untuk kisi yang bertujuan untuk mengetahui penguasaan materi persamaan kuadrat dapat digunakan angka yang berbeda. Untuk soal Bahasa Indonesia dapat menggunakan bacaan yang berbeda namun sama – sama mencari pokok bahasan / ide cerita dari bacaannya. Gitu aja ko repot…..

Yang saya cukup salut adalah kelulusan tahun ini tidak mutlak ditentukan dari nilai UN saja, tapi Nilai Sekolah juga turut menentukan kelulusan anak. Pihak sekolah pasti jauh lebih memahami anak, siapa saja yang tergolong pandai, berbakat serta berakhlak. Sudah sepantasnya sekolah juga diberi kewenangan untuk menentukan kebijakan untuk meluluskan anak. Meski demikian masih terdapat titik lemahnya, Terutama bagi perusahaan yang akan menggunakan siswa SMK sebagai tenaga kerjanya/karyawannya. Pasalnya Nilai 75 di sekolah A belum tentu sama dengan nilai 75 disekolah B. Perusahan sebagai User dari tamatan SMK/SMA harus lebih selektif dalam menjaring tenaga kerjanya. Mereka harus memiliki seperangkat alat uji yang cukup baik untuk mengukur kemampuan akademisnya maupun psikologisnya.

Oh iya…. jangan – jangan dengan metode 60% – 40% dalam penentuan kelulusan tahun ini sebenarnya sebagai batu loncatan pemerintah bahwa untuk tahun berikutnya kelulusan 100% diberikan kepada sekolah masing-masing? .

Sekian Ulasan Mimbar Bebas saya…. :)

Hardiknas, Pendidikan Nasional

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Happy Paperless located at Banjarnegara , Jawa Tengah, Indonesia . Reviewed by 28 customers rated: 1 / 5



Rumus-Excel.Com
Kunjungi rumus-excel.com untuk belajar excel. Anda juga dapat menyumbangkan artikelnya ke kami untuk kita publish