Belajar Tidak Identik dengan Buku

Kebiasaan Buruk Siswa SMK, Mulai Dari Mencuri Sampai Hubungan Suami Istri

Kebiasaan-kebiasaan buruk siswa SMK, itulah kata kunci yang sering saya baca tiap hari pada daftar Recent Search Terms yang berjalan di belakang (layar Admin) blog ini. Kenapa banyak orang mencari permaslahan seputar kenakalan / kebiasaan buruk siswa SMK, ini menjadi pertanyaan besar bagi saya.

Pada Tahun Ajaran Baru 2006/2007 berjalan beberapa bulan saya mulai merasa ada sesuatu yang beda pada diri anak, bukan hanya pada siswa baru namun hampir menyeluruh. Terutama masalah minat belajar anak.  Kebiasaan anak yang mendatangi meja guru untuk menanyakan soal kimia sudah jarang saya temui. Siswa yang menanyakan judul untuk lomba karya ilmiah juga sudah tidak ada lagi. Begitu saya tawari sebuah lomba karya ilmiah Kimia tingkat Nasional untuk anak SMU/SMK yang mendaftar hanya satu orang saja -padahal kan butuh 3 anak-. Kira-kira apa yang menyebabkan perubahan besar ini? Jawabnya sederhana saja, yaitu pengaruh buruk dari kemajuan teknologi informasi (HP dan Internet).

Akhir tahun 2004 teknologi Handphone bukan lagi barang mewah yang hanya dapat dijangkau orang-orang berduit saja. Ketika itu hampir semua siswa memiliki HP, bahkan tidak sedikit anak yang membawa HP lebih bagus dari HP punya gurunya.

Kenakalan remaja memang bukan hal yang baru. Sebelum teknologi informasi dapat diakses dengan mudah kenakalan remaja sebagian besar dipengaruhi oleh teknologi transportasi, dapat dipastikan disekolah kami lebih dari 1/3 siswanya (Total ± 1400 siswa) membawa sepeda motor. Dengan sepeda motor, sepulang sekolah si anak dapat pergi kemana saja dia suka dan dengan siapa saja mereka dapat pergi, tanpa harus ketakutan tidak mendapat kendaraan untuk pulang. Boleh dikatakan 10 anak yang membawa sepeda motor 3 diantaranya  pergi bersama pacarnya, 5 anak pergi bersama teman sekolahnya dan sisanya langsung pulang. Kalau begitu 8 dari 10 anak berpotensi untuk melakukan hal-hal yang menyimpang.

Baru pada bulan Maret 2008 saya mencoba mengumpulkan informasi dari berbagai sumber seputar kenakalan remaja terutama siswa/siswi SMK baik SMK yang mayoritas perempuan (SMK Bismen) maupun mayoritas laki-laki (SMK Tekin). Pada bulan Maret 2008 Tuhan mempertemukan saya dengan salah seorang pebisnis muda (maaf nama tidak saya sebutkan) yang pernah mengalami kebangrutan usahanya dibeberapa kabupaten. Dan sekarang sudah mulai menemukan kesuksesanya kembali meski dunia usahanya jelas-jelas sangat berbeda dengan usaha sebelunya. Saking suksesnya dia, maka ada pihak sekolah yang sengaja meminta dirinya untuk memberikan materi tentang kewirausahaan di beberapa SMK dan PT Swasta ditempat kami. Dirinya mendapatkan tugas dari sekolah dan PT tersebut untuk memberi motivasi pada anak tentang jiwa kewirausahaan.

Berawal dari ngobrol sana sini sampai pada ketakutanya akan masa depan anak perempuannya. Dia menceritakan dengan runtut dari awal kenapa dia tertarik dengan dunia remaja anak putri. Dia memperhatikan segala macam perilaku anak putri dan perubahan-perubahan masa remajanya. “Itung-itung sambil ngajar sambil nyari ilmu, bekal untuk mendidik anak nantinya” kata lelaki muda tersebut.

Dia mengaku sangat prihatin dengan anak sekolah jaman sekarang. Suatu ketika dia memanggil anak yang sering ijin meninggalkan pelajarannya, diajaklah siswi tersebut ngobrol panjang lebar. Alangkah terkejutnya ketika mendengar bahwa anak tersebut sudah pernah melalukan hubungan suami istri. Cerita ini kemudian dia kembangkan, mulailah dia mendekati anak yang iuran bulanan sekolah tidak lancar. Ternyata ada beberapa siswi yang bermaslah dengan uang bulanan pun pernah melakukan hubungan suami istri. Dia berani menyimpulkan bahwa 64% siswi pernah melakukan hubungan suami istri. Ketika ditanya apakah kamu tidak takut hamil, jawab si siswi tersebut adalah “biarkan hamil biar orang tua rasakan sekalian” – berarti ada yang ga beres diantara anak dan orang tua. Bahkan ada yang berani merekam adegan layaknya suami istri di HP mereka, dengan dalih kenag-kenangan. Wah…. ngeri juga ndengerinya. Ada juga lho yang sampai taraf ketagihan. Dari beberapa responden ada yang menyatakan, “Sekolah kita belum parah ko pak kalau dibandingkan dengan SMU …… “. Apakah mereka saling tukar cerita? Ataukah memang sudah ada jaringan? Hmmmmm……… Mau seperti apa bangsa ini nantinya?

Saya pernah menyampaikan perihal ini kepada guru BP dan guru agama ditempat kami mengajar. Berita ini langsung ditanggapi oleh Guru Agama ditempat kami, Pada bulan Ramadhan, ada beberapa sekolah (salah satunya SMK tempat kami), menjalin kerjasama dengan sebuah lembaga dakwah islam. Dimana semua siswa laki-laki mendapat kewajiban untuk menginap di beberapa masjid selama 3 malam. Menginap 3 malam ini digilir untuk beberapa sekloah. Satu masjid diisi oleh 10 siswa dan 2 orang pendamping dari lembaga dakwah tersebut (Pembimbingnya Gratis). Pada kesempatan itu kita mencoba untuk menelusuri berapa persen siswa (laki-laki) yang pernah melakukan hubungan suami istri. Ternyata dari sekian ribu siswa, yang pernah melakukan hubungan suami istri ada sebanyak 33%, ini pun masih diyakini ada  anak yang tidak mau mengakuinya. Sementara survey yang dilakukan guru BP/BK, 55% pernah malakukan hubungan layaknya suami istri .

Akhir-akhir ini BP/BK mencoba untuk mengembangkan informasi tersebut. Jujur saja kasus yang paling banyak ditangani oleh BP/BK dan Tim STP2K ditempat kami adalah maslah pencurian baik pencurian uang, HP, sampai helm. Dari kasus yang sudah-sudah, setiap anak yang terbukti mencuri, maka siswa tersebut akan menghadapi sejumlah pertanyaan tentang perputaran barang hasil curian dan penggunaan uang hasil pencurian. Pada giliranya, tes keperjakaan, dari sekian banyak kasus pencurian disekolah dapat dipastikan 100% pelaku pencurian tersebut pernah melakukan hubungan suami istri. Ternyata, siswa yang memiliki kemampuan mencuri disekolah memiliki juga kebiasaan-kebiasaan buruk lainnya, seperti mengkonsumsi narkoba sampai pada melakukan hubungan suami istri.

Lalu apa yang harus kita perbuat dengan keadaan yang seperti ini? Kita tidak bisa berbuat banyak untuk melawan zaman yang makin menggila. Kita hanya mampu meminimalisir dengan cara, mengaktifkan mereka dengan kegiatan yang positif dan bermanfaat bagi mereka. Sebenarnya remaja hanya membutuhkan lingkungan yang nyaman dan dapat diterima oleh dirinya, terutama mulai dari lingkungan primernya terlebihdulu yaitu keluarga, baru lingkungan Masyarakat, Sekolah dan lingkungan teman bermainnya.

Hmmm…. Bingung…. Geram….

Ternyata Harga diri seseorang sudah tidak ada artinya lagi. Mereka tidak berpikir panjang, akal mereka sangat pendek, maklumlah gejolak peralihan dari masa anak-anak menuju remaja (belum matang/dewasa pemikiranya). Coba perhatikan data diatas, ternyata persentase tertinggi malah ada pada anak perempuan. Ngeri juga ya…. Satu hal yang harus diingat bagi anak putri, mau bagaimanapun juga, wanita pasti yang akan jadi korban. Sadarilah……, jangan samapi kalian tersadarkan jika telah dicampakkan. Perasaan sakit hati dengan pacarnya yang dulu, pacar yang baru mencampakkan, repotnya lagi keluarga tidak menyemangati agar tetap kuat untuk menghadapi hidup. Dan bagaimana dengan Tuhan? ya…. kita tau Tuhan punya aturan main sendiri, yang jelas pesan-Nya “Janganlah kamu mendekati zina”.

[kenakalan remaja mencuri (16)] [perilaku buruk siswa (13)]

Hubungan Badan, kebiasaan buruk, Mencuri, pelajar, perawan, SEXS, sexs bebas, Siswa, SMK, Suami Istri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Happy Paperless located at Banjarnegara , Jawa Tengah, Indonesia . Reviewed by 28 customers rated: 1 / 5



Rumus-Excel.Com
Kunjungi rumus-excel.com untuk belajar excel. Anda juga dapat menyumbangkan artikelnya ke kami untuk kita publish